The Eldest is respected in his house, the headman in his village, A king is respected in his country, but the learned everywhere, Sanskrit Sloka

Hoakiau di Indonesia

by Gigih Pribadi | 1:27 AM in |



Sebenarnya siapakah penduduk asli di Indonesia. Pertanyaan ini kembali menyeruak dan menarik untuk dipikirkan saat ramainya perayaan Imlek atau tahun baru Cina. Sekarang kaum Tiong Hoa bersiap merayakan tahun baru ke 2560. Disini kita tidak akan membicarakan Imlek, dan seputarnya. Tetapi pertanyaan sederhana tetapi agak sulit dijawab. Siapakah yang pantas disebut sebagai pribumi?,apakah orang-orang yang lahir di Indonesia, tidak perduli bagaimana ‘rupa’nya yang penting mempunyai KTP Indonesia. Atau seseorang yang nenek moyangnya telah berada sejak lama di Indonesia.

Jawaban pertama akan menghasilkan kesimpulan jika setiap orang di Indonesia adalah pribumi. Titik tekannya adalah lahir di Indonesia dan punya KTP. Jawaban kedua juga tidak memberikan acuan jelas tentang siapa pribumi, sejak kapan? Harus keturunan ke berapa? Agar sah orang dikatakan sebagai Pribumi. Bingung kan? Lalu kenapa istilah Pribumi sering sekali menjadi perdebatan bahkan menjadi komoditas politik.

Ada pendapat, Pribumi adalah orang-orang yang berasal dari nenek moyang yang pertama kali mendatangi dan mendiami suatu daerah. Jadi ketika setelah itu ada yang datang berarti dia pendatang dan bukan Pribumi. Lah, lalu orang-orang yang datang pertama kali mendiami suatu daerah tadi disebut apa, kalau tidak disebut sebagai Pendatang juga?. Mungkin bedanya yang pertama datang telah beranakpinak sehingga jumlahnya menjadi banyak, sekaligus mulai mengembangkan budayanya. Ehm dari sini kita akan mengambil asumsi logika mayoritas.

Dikotomi dalam ilmu antropologi yang sejatinya untuk memudahkan penelitian Ilmiah, atau Etnologi yang mencoba membuat pola-pola maya dengan mengkategorikan manusia menjadi beberapa kelompok berdasarkan bentuk fisik. Tiba-tiba menjadi sebuah pranata politik dari kelompok mayoritas untuk menekan kelompok minoritas. Seperti kata Pramoedya dalam bukunya Hoakiau di Indonesia “Orang-orang Tionghoa bukan pendarat dari luar negeri. Mereka sudah ada sejak nenek moyang kita. Mereka itu sebenarnya orang-orang Indonesia, yang hidup dan mati di Indonesia juga, tetapi karena sesuatu tabir politik tiba-tiba menjadi orang asing yang tidak asing: Maret 1960”

Rasialisme yang menyebabkan terjadinya diskriminasi, perlakuan yang tidak adil hanya karena perbedaan warna kulit,ras dan bentuk fisik adalah bahasa budaya primitif manusia yang sampai saat ini masih saja hidup di Dunia. Tidak perduli di negara yang paling maju dan makmur sekalipun. Contoh meski Amerika kini dipimpin oleh presiden berkulit hitam. Sentimen-sentimen anti minoritas dan sentimen rasialis tetap saja ada, hal itu terlihat dari kuatnya ancaman pembunuhan terhadap Obama dari kelompok fanatis ras kulit putih. Begitu laporan Intelijen dalam negeri AS yang dilaporkan Kompas.

Tentu tidak akan lupa kisah legenda pembantaian 6 juta warga yahudi oleh Nazi Jerman. Meskipun hal itu masih menjadi perdebatan, tetapi setiap orang di dunia yakin bahwa pembantaian itu ada. Entah jumlahnya yang dimarkup sebagai dramatisasi Yahudi itu urusan lain. Pembantaian Yahudi di Eropa akan selalu mengingatkan kita akan bahayanya sentimen-sentimen ras apabila terus menerus dibiarkan terjadi. Bahkan sampai sekarang pun masih ada orang-orang Jerman yang mempunyai semangat chauvinisme kuat dan cenderung merendahkan ras lain. Yang oleh teman saya dinamakan “The Mad Man Group”.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, negeri kita tercinta. Kalau kita melihat sebentar kamus besar bahasa Indonesia. Kata Pribumi berarti Penduduk asli dari daerah yang bersangkutan. Lalu apa yang dmaksudkan dengan penduduk asli, apakah penduduk asli itu lahir/tiba-tiba muncul dari tanah daerah yang bersangkutan. Rasanya tidak mungkin tiba-tiba muncul orang Jawa di Jawa, Dayak di Kalimantan, atau Melayu di Sumatera. Tampaknya kamus pun cenderung menguatkan pandangan kabur tentang pribumi dan pendatang.

Sunarjo mantan konsul Jenderal Republic Indonesia untuk Vietnam, pernah menulis di harian Nhan Dhan terbitan Hanoi bahwa menurut ahli sejarah dan etnologi secara antropologi rakyat Indonesia dan Vietnam berasal dari satu keturunan.Vietnam maupun Indonesia telah kedapatan bekas-bekas yang sama dari jaman batu seperti kampak,perkakas,periuk dan barang peninggalan dari batu. Belum persamaan dari adat istiadat dan cara hidup keduannya,laporan dari Antara.

Bahkan dalam catatan perjalanan Is Waridin ke Vietnam (Suara Merdeka 1/25),”Tidak ada yang menyangka kalau saya ini orang Indonesia, Maklum wajah kita memang tak jauh-jauh amat dengan kebanyakan dari mereka”. Atau jika kita melihat makanan Vietnam dan Indonesia, Is Waridin pun menuliskan “soal jajajanan ini memang menarik. Paling tidak, kita yang dari Indonesia tak perlu terlalu memikirkan apakah jajanan itu cocok dengan selera kita atau tidak. Sebab, umumnya hampir semua panganan mirip dengan punya kita”.

Bolehlah dari beberapa argumen diatas, kita berpendapat bahwa sebenarnya warga atau rakyat asli Indonesia itu sebenarnya tidak ada. Saya sebagai orang Jawa yang sering dikatakan sebagai pribumi di tanah Jawa. Sebenarnya adalah kaum pendatang juga, entah beberapa puluh abad atau beberapa ratus abad yang lalu sebelum datang kelompok ras yang lain. Bisa saja nenek moyang saya berasal dari Vietnam, Cina atau dari manapun. Karena dulunya topografi Indonesia masih bergabung dengan daratan Asia kini. Kalau kita pikir-pikir lagi, sebenarnya Tuhanpun menciptakan manusia dari satu sumber Adam dan Hawa saja.

Membangun kesadaran siapa kita sebenarnya sangatlah penting. Agar tidak terjadi lagi suatu pemasalahan yang sebenarnya sudah tidak relevan. Di tengah kemajuan peradaban manusia, kemajuan persamaan Hak, kemajuan Humanisme, Teknologi dan Globalisasi Dunia. Kita di Indonesia masih saja memperdebatkan Pribumi dan non Pribumi. Beserta perlakuan diskriminasi yang akan menyertainya baik langsung maupun tidak langsung.

Pengalaman-pengalaman buruk Indonesia masa lalu, cerita perseteruan antara Cina dan Jawa, antara Cina lawan Melayu yang bahkan hingga kini masih jelas jejaknya di Singapura dan Malaysia. Pembantaian demi pembantaian atas nama identitas. Seperti konflik Madura dan Dayak saya kira tidak perlu terulang kembali. Sesungguhnya konflik yang terjadi antar Etnis, antar Ras bahkan antar Agama. Menurut teori Abrams dan Hoog dalam buku yang berjudul Prejudice, ada hubungan kausal antara diskriminasi dan self esteem. Maksudnya bahwa dengan melakukan proses dikriminasi maka self esteem akan meningkat, karena sebelumnya seseorang terjebak pada status sosial yang sulit dan rendah.

Pertimbangan Ekonomi sebenarnya lebih banyak menjadi sebab utama timbulnya konflik horizontal di negeri ini. Terutama antara pendatang dan penduduk yang datang lebih awal. Yang mana seringkali pendatang dengan semangat barunya, kerja kerasnya karena sadar mereka di perantauan. Menjadi maju dan sukses lebih dari penduduk lokal. Status ekonomi merupakan pemancing kecemburuan sosial terbaik . Maka munculah sentimen ras dan diskriminasi yang mengakibatkan pecah konflik antar Ras atau Suku.

Ada juga pertimbangan Politik, contoh menarik adalah bagaimana Belanda pada waktu penjajahan memanfaatkan kaum minoritas Cina sebagai pedagang perantara. Tetapi setelah tidak dibutuhkan dan untuk mengalihkan kebencian rakyat yang seharusnya tertuju pada Belanda. orang-orang Cina ini dikejar, diburu bahkan dilenyapkan sambil meneriaki Lintah Darat!, mindring!, Penyogok!,Mata duitan!, Serakah!, Asosial!.

Selayaknya kita perlu banyak belajar dari cara Islam memandang manusia. Islam adalah agama ilahiyah yang ajarannya dan cara pandangnya lebih mencerminkan bagaimana Tuhan memandang manusia. Dalam sebuah hadist mengabarkan bahwa Manusia yang paling baik di dunia ini tidak dipandang dari ras, suku, keturunan atau apapun itu. Tetapi lebih berdasarkan banyaknya manfaat yang dapat diberikan manusia keapada seluruh alam semesta.

Sebagai penutup, saya akan kutip lagi kata-kata Pramoedya untuk teman pena-nya di Peking, ‘Terimalah jabat tanganku, kita tidak bakal lupakan apapun dalam hidup kita ini, dan kita sampaikan catatan kita pada anak cucu kita, pada sejarah. Tidak ada yang Indah dari kehidupan ini daripada persahabatan, karena dia membuat dunia hidup kita menjadi luas, hanya permusuhan-permusuhan jua yang menyempitkan’.
Gigih Pribadi di Rumah tercinta, 1/25/2009
Membuka buku-buku Pram mengingatkanku pada kata-kata bijak, Apakah kau ingat Undang-udang dunia? Siapa yang bekerja dan berkarya maka ia akan hidup dan terus dikenang sepanjang peradaban manusia, tetapi siapa yang malas bekerja dan berkarya maka ia akan mati dan hilang selama-lamanya dari sejarah dunia.

2 komentar:

  1. LuLuK on February 4, 2009 4:41 AM

    Seru juga ngebahasnya. Makasi diingetin biar ga rasis dan ga hasad. Apa yah? Yang saya lihat di lingkungan pergaulan kita, sepertinya secara alami kita akan memilih komunitas yang sekufu (kaya’ milih jodoh ajah!hehe), yah,,, sama-sama tau lah apa maksud saya… Jadi secara ga sadar terbentuk SEKAT-SEKAT di bangsa ini. Sekat yang kasat mata dan memperparah kondisi yang udah serba susah. Dan sekat ini begitu banyak sampai ga pandang ras. Yang se-ras pun kena sekat! Kapan-kapan mau bahas ah..

    Cerita dikit ya, kak… Kebetulan saya tinggal di lingkungan yang banyak orang cina-nya dari kecil sampai kuliah di kampus sekarang. Tau kan klo Rembang, apalagi Lasem (rumah saya di kecamatan ini, kak) banyak menyimpan sejarah orang2 cina masa lampau. Sampai sering dipake shooting film2 berlatar cina jaman dulu lho! Hehe, ini ga penting… Yang saya lihat, corak mereka dalam berbisnis emang TOP abis! Bahkan momen kematian juga jadi ajang bisnis dan networking! Itulah mengapa klo ada yang meninggal jenazahnya disemayamkan begitu lama. Selain tradisi dan ajaran agama mereka, juga buat ngumpulin keluarga dan teman jauh. Itulah cerdasnya kali ya, ga mau diisi sama tangis dan bahas gimana almarhum dulu, tapi bahas masa depan alias bisnis, hehe…

    Tapi jeleknya, menurut cerita ibu saya yang banyak punya teman cina, rasa tolong-menolong tanpa pamrihnya kurang, mungkin yang dianggap tidak memberi keuntungan. Makanya banyak ‘cino ntil’ (istilah buat cina miskin disini) yang sodara2nya kaya. Mungkin terlalu tegas dalam berprinsip : siapa yang bekerja keras akan berhasil. Jadi salah sendiri males. Gitu kali ya… Teman cina di kampus juga sukanya main sama sesama mereka… Kompak banget bahkan! Sampai ke posisi duduk buat ujian (dengan tujuan khusus, tau kan?).

    Terus, kebanyakan yang mereka pikirin Cuma dunia. Jujur, saya jarang lihat teman cina saya yang rajin ke gereja, misalnya. Ato klo ke kelenteng juga seringnya yang saya lihat buat minta diramal, minta jimat biar usahanya untung. Sore kemarin ibu cerita klo ada teman cinanya, yang berkomentar : “wah, mba, dunia wis ning tanganmu! Bejo sampeyan punya anak sing sekolahe kepenak.”. komentar ayah : “cina ki emang usahane kenceng, tapi kanggo donyo tok. Mikire ki pol-polane urip yo mung donyo”.

    Yah, bisa saling belajar dari mereka juga tentunya.

    Terakhir, saya kagum dan salut banget sama teman-teman cina di FK UI pas ikut seminar beberapa hari disana. Banyak yang jadi aktivis lho! Ya di senat, ya di lembaga kampus lain, mulai dari jurnalistik, seni, sampai ilmiah. Jujur, beda banget sama di kampus saya… Pelajaran berharga dari mereka : siapapun kita, darimanapun latar belakang kita, kita sama-sama punya kewajiban memajukan negeri ini dengan peran yang telah kita pilih masing-masing. Klo semua sadar, setidaknya ga ada orang yang dengan dengaja bikin ribut. Dan semua bisa kompak bernyanyi : saya bangga menjadi… anak Indonesia!

     
  2. Mak' ya On The Spot on March 31, 2009 3:05 AM

    liet tulisannya bikin laper... pngn makan....

     

NO Corruption

NO Corruption

Letsdiscuss.


ShoutMix chat widget
bloguez.com

Gigih Pribadi

Gigih Pribadi

Followers

Navigation