“Menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.” Bagaimana jika kalimat bijak yang sering kita dengar itu saya balik? “Menjadi tua adalah pilihan, tetapi menjadi dewasa adalah kepastian” by : Luluk Qurrota Aini
Pada awalnya kalimat baru ini cukup menggelitik telingan saya. Lucu juga. Tetapi setelah saya renungkan, ini adalah kalimat yang hebat. Sangat memotivasi dan bisa jadi slogan bagi mereka yang mengaku manusia modern yang hidup dengan healthy modern lifestyle.
Menjadi Tua adalah Pilihan
Nenek buyut saya meninggal di usia 110 tahun. Saat ditanya apa penyebabnya, kebanyakan kerabat menjawab kerena ‘penyakit tua’. Di usianya yang sudah sangat tua, beliau di mata saya masih terlihat bugar dan ingatannya masih baik. Meskipun postur tubuhnya memang bungkuk, tetapi nenek buyut saya itu masih sering mengambil bagian untuk melakukan pekerjaan rumah, masih telaten mengurusi ayam-ayam peliharaanya, dan masih rajin ibadahnya. Keluhan yang sering beliau sampaikan hanya pegal-pegal. Saya kecil pun bingung. ‘Penyakit tua’ itu wujudnya seperti apa, ya?
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua. Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran. Penuaan pada manusia melibatkan berbagai proses yang meliputi perubahan fisik, psikologi dan sosial. Perubahan fisik yang terjadi meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.
Kulit mulai tampak berkeriput dan kering sebab produksi kelenjar keringat kulit mulai menurun, diikuti proses pigmentasi kulit makin meningkat dan rambut mulai menampakkan uban. Kemampuan kerja juga mulai menurun, masa otot berkurang dan lemak bertambah.
Perubahan psikis yang sering nampak diantaranya gairah hidup yang menurun, mudah cemas dan tersinggung. Perubahan sosial nampak pada perilaku menarik diri dari lingkungan sosial dan cenderung sibuk dengan kegemaran pribadi.
Banyak faktor yang terlibat dan mempengaruhi penuaan, diantaranya hereditas atau ketuaan genetik, nutrisi atau makanan, status kesehatan, pengalaman hidup, lingkungan, dan stres. Lalu, proses alamiah yang pasti terjadi pada semua manusia itu bisakah dihindari setidaknya diperlambat lajunya?
Sudah menjadi pandangan umum bahwa menjadi tua artinya bersiap menerima bermacam kemunduran, penyakit, menjadi tidak berdaya dan akhirnya meninggal dunia. Yang saya lihat, kebanyakan orang merasa pasrah bahwa menjadi tua harus mengalami segala macam penyakit, kemunduran, kekurangan, dan kelemahan.
Kabar baik bagi kita bahwa dewasa ini perkembangan ilmu kedokteran anti penuaan (anti-aging medicine) telah membawa konsep baru dalam dunia kedokteran. Menurut Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan pakar anti-aging medicine, konsep baru ini memungkinkan manusia tetap dapat hidup dengan kualitas yang prima walaupun usia merambah naik.
Bahkan proses penuaan dapat dihambat dan usia harapan hidup dapat menjadi lebih panjang dengan kualitas hidup yang baik. Proses penuaan dapat disamakan dengan penyakit, sehingga harus dicegah dan diobati. Berdasarkan konsep inilah kemudian dikenal dua jenis usia, yaitu usia kronologis dan usia fisiologis (biologis).
Usia kronologis menyatakan usia sesuai dengan tahun kelahiran, sedangkan usia fisiologis adalah usia yang sesuai dengan fungsi organ tubuh. Jadi mungkin saja seseorang berusia 50 tahun, tetapi fungsi organ tubuhnya, kualitas hidupnya, dan bahkan penampilannya sesuai dengan usia yang jauh lebih muda. Kalimat ‘menjadi tua adalah pilihan’ bisa menjadi mungkin. Lanjut bag 2...




Post a Comment