
Ya Allah lindungilah keluarga-keluarga Muslim dari histeria hari Valentine dan semua yang berbau Valentine, hanya engkaulah yang mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hambamu ini. Doa ini saya ucapkan di pagi hari setelah melakukan ibadah Salat Subuh. Teringat kata-kata Ibu “Gih banyaklah berdoa di waktu subuh,karena di waktu itu Malaikat-malaikat tengah bersiap naik setelah turun di sepertiga malam jadi jangan sampai doamu tertinggal”.
Doa ini selain ekspresi keprihatinan sekaligus menjadi refleksi bagi saya pribadi. Yah meski aura Velentine kini saya rasakan tidak seheboh beberapa tahun yang lalu. Tetapi tetap saja setiap tanggal 14 Februari banyak sekali event-event yang diadakan untuk menyambut hari Valentine, berita-berita/tips, diskon, paket hemat, yang semua dikemas selayaknya agenda dalam Social Campaign. Dengan inti pesan “Ayok kita rayakan hari cinta kasih bersama dan habiskan duit bersama di hari yang spesial ini”.
Lihat saja tulisan spanduk yang bergelantungan pinggir jalan, iklan-iklan televisi, di halaman surat kabar. Penuh dengan penawaran, dan promo berbagai produk. Seperti “berbagi kebahagiaan di hari Valentine hanya 3 hari,beli sekarang dan anda akan dapat double keuntungan by LG. “Valentine promo I-mobile, buatlah si dia bahagia di hari spesial”, atau “Happy Valentine diskon, 50 % untuk semua pernak- pernik Valentine”.
Bahkan para Caleg pun tidak mau ketinggalan,seperti pedagang mengemas produk. Dalam salah satu iklan politiknya Murdoko di Suara Merdeka 2/13. Ada artikel yang berjudulkan “From Murdoko with Love” terpampang besar di halaman utama. Dengan isi, mengajak masyarakat Semarang dan sekitarnya untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah banjir di tanggal 14 Februari ini. Menggelikan memang, lalu kenapa harus tanggal 14? Kenapa tidak jauh hari sebelumnya, bukankah banjirnpun terjadi beberapa hari sebelumnya?.
Sebenarnya bagaimanakah asal-muasal hari Valentine ini?. Setelah sedikit mencari, di jelaskan bahwa Tradisi merayakan hari Valentine sudah ada semenjak jaman Romawi Kuno. Tradisi ini pada awalnya dilakukan selama 6 hari (13 -18 Februari). Pada dua hari pertama ritual yang dibuat khusus dipersembahkan kepada dewi cinta Juno Februata. Selama dua hari itu, para pemuda mengundi secara acak nama-nama gadis yang dimasukkan di dalam kotak. Kemudian gadis yang namanya terambil harus mau menjadi pasangan si pemuda selama setahun untuk menyenangkan dan menghibur si Pemuda.
Legenda 14 Februari semakin menjadi, semenjak bertahtanya Kaisar Claudius di kerajaan Romawi. Karena ingin mempunyai pasukan yang kuat, sang kaisar memerintahkan seluruh laki-laki di kerajaan Roma untuk menjadi serdadu dan maju ke medan perang. Tampaknya hal ini diacuhkan oleh para laki-laki karena mereka merasa berat jika harus meninggalkan keluarga dan kekasih. Kaisar marah, lalu menggulirkan kebijakan gila dengan memerintahkan para Laki-laki di kerajaannya untuk tidak boleh menikah.
Munculah pendeta Valentine yang secara sadar dengan segala resiko, menyelenggarakan pernikahan untuk para laki-laki Roma meskipun sembunyi-sembunyi. Singkat cerita, sang pendeta inipun tertangkap dan dihukum mati pada tanggal 14 Februari.
Yang menarik, Sebelum dihukum sang pendeta sempat terlibat kisah cinta dengan anak penjaga penjara yang terus setia menemani dan memberikan semangat di penjara. Hingga sang Valentine ini menjadi yakin dan kuat akan apa yang telah dilakukakannya. Berdasarkan surat-surat yang dituliskan untuk sang putri kepala penjara itulah nama Valentine berubah menjadi seorang Martir yang selalu diingat masyarakat barat sebagai pejuang cinta.
Oleh pihak Gereja pada 496 M, Paus Grelasius I menjadikan Upacara Romawi kuno ini sebagai hari perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day , sekaligus mengingat pendeta yang kebetulan mati pada tanggal 14 Februari itu. Kisah Saint valentine pun cenderung kontroversial dan mempunyai banyak versi, coba lihat saja dalam The Catholic encyclopedia Vol XV ujar Dr H Dadan Muttaqien salah satu dosen UII yang dikutip Republika.
Saya pun bingung bagaimana budaya impor yang baru dikenal masyarakat Indonesia pada awal tahun 1990an ini begitu cepat merasuki struktur sosial masyarakat. Seolah –olah kini setiap orang di Indonesia diharapkan merayakan hari Valentine, jika tidak! siap-siap saja dibilang katrok, ndeso dsb.
Saya pun mengerti, Hal ini tidak lain karena ekses perkembangan teknologi dan media yang luar biasa. Sudah tidak ada lagi jarak antar budaya. Tiba-tiba dunia menjadi sebuah desa kecil global (global vilagge). Melalui kecanggihan bertuturnya media kini seolah memberikan tafsir dan kerangka berpikir yang sama untuk seluruh dunia. Masyarakat kini mau tidak mau dihadapkan pada sebuah budaya universal yang tidak adil dalam penyusunannya.
Munculah praktik dominasi budaya yang cenderung berlawanan terhadap etika bangsa kita, akan tetapi dipaksa untuk terus diinternalisasikan. Seperti sikap permisif, inilah yang paling terlihat dan seringkali merupakan efek langsung dalam perayaan hari Valentine. Permasalahannya, seringkali pada tanggal 14 Februari/valentine day, sebagian dari kita menafsirkannya sebagai hari dimana kita melegalkan dan menunjukkan kasih sayang secara vulgar, rendah dan penuh nafsu. Seperti mencium pacar di depan umum, bepergian hingga malam hari, melakukan perbuatan asusila dsb pun dianggap biasa saja.
Ditunjang dengan berkembangnya Advance Capitalism yang kata Lenin merupakan bentuk Imprealisme baru. Karena kapitalisme telah berkembang sedemikian rupa dan tanpa sadar masuk dalam gaya hidup masyarakat. Seolah-olah Hari Valentine menjadi hari yang pantas untuk dikultuskan dengan mendorong masyarakat membelanjakan banyak uang untuk merayakannya.
Karena tanpa konsumsi tidak ada eksistensi, tanpa masyarakat mengkonsumsi masyarakat tidak akan merasakan apapun. Seperti halnya ingin berhari raya, ya belanja baju baru, tanpa baju baru ya tidak terasa meriah. Meskipun sebenarnya tidak ada korelasi langsung antara hari raya dan baju baru. Yang ada hanyalah korelasi semu yang diciptakan oleh para kapitalis.
Seperti telah saya singgung sedikit diatas, Tidak heran jika banyak pusat perbelanjaan membuat diskon besar gara-gara valentin day, maraknya pernak-pernik, boneka, warna-warna pinky dalam setiap produk, jutaan batang cokelat dengan kemasan yang spesial. Bahkan tidak tertinggal para caleg ikut menyambutnya dengan harapan kebagian berkahnya. Ibarat produk dapat dikonsumsi pesannya dan dipilih pada hari pemilihan.
Entah Valentine ditunggangi kapitalisme atau sebaliknya, yang pasti dua hal itu berasal dari satu sumber. Inilah yang harus kita sikapi dengan cukup hati-hati, jangan asal latah meski secara esensi terlihat baik dan universal, seperti halnya hari Valentine ini. Apa sih salahnya dengan hari kasih sayang? Toh kita semua juga membutuhkannya. Bangsa ini juga membutuhkannya terlebih dalam kondisi masyarakat yang mempunyai liabilitas emosi dan cenderung anarki seperti ini. Tidak ada salahnya memang tetapi kita juga harus mengetahui apa agenda setting di balik ini semua.
Gigih Pribadi
Terlanjur sering mengungkapkan cinta dan kasih sayang pada sesama tidak hanya pada tanggal 14 Februari,....
Ya Allah Lindungilah Keluarga Kami dari Histeria Valentine
by Gigih Pribadi | 11:00 PM in Catatan Harian |
3 komentar:
-
Hypercahaya
on
February 14, 2009 2:08 AM
kita sebenarnya punya hari kasih sayang sendiri, yakni idul fitri. berusahalah umat islam mengejawantahkan nilai islam dalam kehidupan seharihari. Saudaraku bisa mengelink artikel saya di www.versus-versi.blogspot.com
-
Gigih Pribadi
on
February 17, 2009 8:31 PM
Bagaimana kalo hari idhul adha?, yah saya kira hampir semua hari raya di islam adalah simbol kasih sayang, oke i'll see
-
Mak' ya On The Spot
on
March 31, 2009 2:52 AM
ya Allah tolong...
tiap mlm jumat ajha...
hari kasih sayang sm setan2...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Post a Comment