
"Propaganda als Waffe" yang berarti Propaganda sebagai senjata adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Willi Munzenberg. Willi adalah pimpinan partai buruh Jerman di saat Hitler memegang tampuk kekuasaan. Diterbitkan sebagai protes keras kelompok partai Buruh Jerman, karena partainya dibinasakan oleh Hitler.
Buku ini sangat mengguncang Jerman pada waktu itu. Willi mencoba membongkar semua propaganda yang diinternalisasikan Nazi kepada rakyat Jerman. Pada tahun 1930-1945 Nazi mendoktrin rakyat Jerman dengan mimpi-mimpi, dan ilusi yang tidak masuk akal, menawarkan kesejahteraan dan kebanggaan instan dengan cara berperang. Akan tetapi sejarah membuktikan usaha Willi cs ini sia-sia, Nazi tetap memegang kendali politik di Jerman hingga akhirnya harus lepas karena tekanan militer bukan karena usaha kudeta politik.
Ideologi Nasionalisme Sosialis terlalu kuat untuk diruntuhkan hanya dengan desas-desus, gerakan makar atau ratusan buku meski berisi fakta-fakta yang rasional. Kebanggaan Fasisme terlalu hebat mengakar pada masyarakat Jerman untuk dilunturkan. Bangsa Jerman sudah terlanjur dipermalukan harga dirinya dengan perjanjian Versailes dan tekanan ekonomi yang kuat di dalam negeri. Pada saat yang tepat, partai Nazi berhasil membangun kembali harapan rakyat Jerman. Inilah salah satu contoh partai politik yang mempunyai ideologi mapan. Konflik dan masalah yang muncul hanya akan menjadi bahan bakarnya dalam bergerak.
Mari kita kembali ke dalam negeri dan melihat Pemilu 2009, ada beberapa partai pollitik yang menurut saya mempunyai ideologi kuat. Salah satu diantaranya adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang berhasil mendapatkan posisi no 4 dalam Pemilu 2009. Sungguh prestasi yang luar biasa dari partai yang mulanya bernama Partai Keadilan, yang bahkan di debutan awalnya sempat tidak lolos Electoral Treshold, sehingga berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa hanya dalam waktu kurang lebih 10 tahun, partai ini sanggup berprestasi seperti itu?.jawabannya hanya satu Ideologi.
Ideologi dan Visi Politik
Partai tanpa Ideologi tidak akan pernah menjadi ‘part’ atau bagian dalam masyarakat. Partai yang berdiri tanpa ideologi dan visi politik, hanya akan melanggengkan konsep Machiavelli,dimana tujuan berpolitik hanyalah kekuasaan belaka. Partai tanpa Ideologi ibarat manusia tanpa ruh, berjalan tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa proyeksi masa depan, Mengandalkan kehidupan partainya hanya dari massa imajiner atau massa bayaran. Permasalahannya adalah hampir semua partai politik di Indonesia kini hidup tanpa Ideologi dan Visi Politik yang kuat.
Ideologi dalam pemahaman saya adalah alat konstruksi sistem sosial. Seharusnya Ideologi menjadi satu-satunya alasan rasional bagi kader untuk bergerak. Meskipun motif pribadi untuk berprestasi dengan meraih kekuasaan juga muncul dan harus ada. Tetapi sungguh gawat jika motif pribadi menjadi alasan utama anggota partai dalam bermanuver. Tidak bisa dipungkiri kondisi yang ada saat ini, tampaknya menunjukkan kebalikannya. Sebagian besar kader partai di Indonesia bergerak hanya berusaha mengejar jabatan, status dan uang. Apa yang menjadi visi politik partai belum mampu dipahami dan terepresentasikan dengan baik di mata kader. Itupun kalau partainya mempunyai visi.
Tidak ada dukungan rakyat dibangun dalam waktu satu malam, meskipun ada partai politik yang mempunyai uang, materi dan sdm yang tidak terbatas jumlahnya. Meskipun sebagian besar rakyat Indonesia masih miskin dan suaranya mudah dibeli. Semuanya membutuhkan investasi politik jangka panjang yang mulai dioperasionalkan jauh-jauh hari sebelum Pemilu. Seperti pendampingan rakyat miskin, pemberdayaan masyarakat, advokasi masyarakat, tanggap bencana, peduli pendidikan dsb. Pendampingan yang menempatkan partai sebagai bagian organik masyarakat tidaklah mudah dilaksanakan. Jika para kader dan simpatisan partai tidak memahami kenapa dan untuk apa mereka harus berjuang.
Ideologi adalah bahan bakar kaderisasi, karena kaderisasi tanpa ideologi yang mapan adalah semu. Mapan dalam artian mampu membawa kader untuk memproyeksikan masa mendatang, sesuai visi partai politik. Sehingga kader mampu menjawab pertanyaan untuk apa dan kenapa harus berjuang. Kenapa saya harus berkorban dan untuk tujuan apa saya harus mengorbankan apa yang saya punya. Apa imbal balik yang akan saya terima jika saya berkorban demi organisasi. Jika ideologi yang ada mampu menjawab itu semua hanya dengan ideologi itu sendiri tanpa faktor diluar seperti materi,status dll. Ideologi tersebut mampu menjadi ideologi yang mapan.
Cara termudah untuk menghancurkan sebuah organisasi adalah merusak pola kaderisasi yang ada. Organisasi sehebat apapun akan tersapu dalam sejarah jika tidak mampu mencetak kader-kader penerus. Begitu juga dengan partai politik, apa yang terjadi jika tidak ada pola kaderisasi yang mapan. Akibatnya masyarakat dipertontonkan degelan asal comot Caleg seperti yang terjadi di Pemilu 2009. Adanya penjual gorengan, loper koran, penjual nasi kucing, dan tukang pijet yang menjadi caleg. Meski hal ini menunjukkan bahwa semua orang berhak memilih dan dipilih. Tetapi apakah mereka mempunyai kapabilitas untuk memegang amanah di legislatif?? Saya kira tidak. Juga adanya nama-nama pelacur politik yang setiap Pemilu berpindah dari satu partai ke partai yang lain menyesuaikan arah angin yang tengah berhembus.
Partai membutuhkan Ideologi alplikatif, yang bukan hanya “idea” semata namun juga mampu dioperasionalkan sampai tataran nilai. Sehingga mampu menggerakan kader, simpatisan bahkan massa seperti apa yang diinginkan oleh si penggerak. Kebenaran dan kebatilan menjadi milik ideologi. Maka mesin politik seperti PKS meski pertumbuhannya pelan tetapi pasti, dan tidak akan mudah hancur hanya karena desas-desus. Sedangkan pemenang Pemilu 2009, partai Demokrat akan sangat tergantung pada pencitraan yang ada dari SBY. SBY hancur sudah dapat dipastikan Demokrat hancur.
Kader-kader partai yang disiplin dan militant dihasilkan dari ideologi yang rasional, realistis, kekinian dan mapan. Bahkan seringkali Ideologi yang tidak rasional dan realistispun masih sanggup untuk mencetak kader yang rela mati untuk apa yang diyakininya. Seperti yang saya katakan di awal asalkan ideologi mampu menjawab semua pertanyaan fundamental. Fakta telah menunjukkan bagaimana gerakan Al-Qaedah sanggup membuat orang rela menjadi Bom hidup. Gerakan ini berhasil menciptakan suatu sistem Ideologi yang mapan, yang mampu menjawab semua pertanyaan fundamental dengan jawaban yang sangat sederhana yaitu Surga dan Neraka, antara Dajjal dan Malaikat.
Seperti kata seorang ahli propaganda Goebels dalam buku di bawah bendera Revolusi, “wenn die propaganda ein ganzes Volk mit einer Idee sequenzen ziehen” yang berarti “Kalau propaganda sudah masuk kedalam jiwa suatu rakyat, maka dengan sedikit saja rakyat itu bisa dilipat”.
Jika partai politik ingin dipilih oleh rakyat, terutama apabila harus bersaing dengan puluhan partai dan apatisme publik. Partai harus mempunyai ciri khas. Memilih partai bukan seperti memilih produk yang apabila tidak memuaskan boleh tidak dibeli lagi. Partai harus mampu memperlihatkan kepada masyarakat apa yang akan dilakukannya ketika memerintah tanpa harus mengobral janji. Voters dapat memperkirakan dengan sendirinya, apa yang akan terjadi jika memilih salah satu partai. Ideologi sangat penting untuk membentuk diferensiasi.
Pada tahun 2006 partai-partai besar di Indonesia seperti Golkar dan PDI-P pernah mencetuskan ide untuk mengubah semua ideologi partai menjadi Pancasila. Sekilas nampak sebagai gagasan yang bijak, karena sentimen-sentimen –isme diganti dengan adu Program. Hal ini mengingatkan kita pada zaman Orde baru yang menerapkan asas tunggal untuk semua Organisasi kemasyarakatan demi stabilitas Nasional. Soekarnopun pernah mengatakan “Kubur dalam-dalam ideologi”!, karena konflik antar partai yang menyebabkan kondisi Negara tidak stabil.
Selain iklim demokrasi yang belum matang terlebih dalam kondisi Demokrasi kapitalis radikal ini, apabila tidak ada perjuangan ideologi dalam konstelasi Politik. Demokrasi akan menjadi semu dan partai akan terjebak dalam pemikiran jangka pendek, pragmatis dan opportunis,lagi-lagi saling berebut Swing Voters/Undicided Voters. Akibatnya Kemunafikan, Money Politic, mengumbar janji palsu, saling tipu menipu adalah sebuah kewajiban jika ingin memenangkan suksesi Politik.
Ideologi yang mencerdaskan, berlandaskan pada kebenaran, dari sesuatu yang rasional, dan dalam koridor konsensus kebangsaan dalam hal ini Pancasila. Haruslah menjadi dasar yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk gerakan setiap partai Politik di Indonesia. Jika ada partai yang memang sudah mempunyai ideologi mapan lebih baik terbuka dan jujur sajalah, jangan bermain politik ‘nglimpe’.
Jika ingin merubah negara ini menjadi negara sosialis katakan saja di awal, jika ingin merubah negara ini menjadi negara Syariat katakan saja. Maka potensi kekerasan dan konfilk akibat gesekan ideologi dapat terhindari. Rakyat secara sadar, mengetahui benar platform dan resiko yang akan terjadi jika memilih salah satu partai. Harapannya Demokrasi akan berjalan ke arah Demokrasi yang matang dan Kesejahteraan Bangsa yang menjadi tujuan akan terwujudkan. Karena rakyatlah yang benar-benar menjadi penentu. Wallahualam.
Gigih Pribadi
Mencontreng partai kemarin tidak menggunakan emosi, nafsu dan terburu-buru tetapi pakainya Hati Nurani.
1 komentar:
-
Mak' ya On The Spot
on
April 12, 2009 7:32 PM
Tambah asik aja ni gigih...
cb dr dulu taunya pnya blog begini..
maunya... jd no 1 terus ksi commentnya...
n kl km siaran bhs ky gini, pasti ta dengerin trs deh ^_^
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Post a Comment