Datanglah kepada Rosul Muhammad SAW, menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina, yaitu al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka adalah tokoh-tokoh kaum musyrikin kafir kota Mekkah. Yaitu kaum yang tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawakan Nabi kepada mereka.
Para tokoh musyrik itu bermufakat untuk datang kepada Rosul di tengah rasa putus asa dan frustasi. Tidak lain karena perkembangan dakwah Nabi yang luar biasa. Timbulnya rasa saling curiga antar penduduk kota Mekkah, yang semakin memuncak dan menuju ke arah konflik langsung Horizontal. Atas alasan itulah mereka mencoba mengemukakan proposal damai dan kompromi kepada Rosul Muhammad SAW.
Mereka menawarkan suatu usul: "Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini, engkau turut serta bersama kami. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami, supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami, sama mengambil bahagian padanya."
Kemudian diperjelas oleh ustad saya, beliau mengatakan Setahun dan Setahun tawaran orang kafir. Maksudnya adalah Setahun untuk beribadah dengan cara kaum Musyrik. Setahun lagi beribadah dengan jalan Muslim. Begitu seterusnya bertahun-tahun.
Tidak berapa lama setelah mereka kemukakan usul ini,turunlah bagian-bagian 6 ayat surat "Al-Kafiruun" yang berasal dari kata "Kafaro" yang artinya menutup. Antonim kata dari Fataha yang artinya membuka.; "Katakanlah, hai orang-orang yang kafir! "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah." (ayat 1&2). "Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah"(ayat 3). "Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah"(ayat 4). "Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah"(ayat 5). "Untuk kamulah agama kamu dan untuk akulah agamaku"(ayat 6).
Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah arti ayat yang kedua: "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah," ialah menafikan perbuatan (nafyul fi'li) Artinya bahwa perbuatan begitu tidaklah pemah aku kerjakan. "Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah (ayat 3). Artinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat diperdamaikan atau digabungkan. Karena yang aku sembah hanya Allah SWT kan kalian menyembah kepada benda; yaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri.
"Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah." (ayat 4). "Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah." (ayat 5). Maka selain dari yang kita sembah itu berlain; kamu menyembah berhala aku menyembah Allah Yang Maha Esa, maka cara kita menyembah pun lain pula. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan shalat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masing-masing ini didamaikan; "Untuk kamulah agama kamu, dan untuk akulah agamaku." (ayat 6).
Al-Qurthubi dalam tafsirannya menulis "Tinggilah dinding yang membatas, dalamlah jurang di antara kita." Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah antara kaum Muslim dan kaum Kafir. Kita berbeda dalam masalah tauhid dan agama. Karena Tuhan yang kita sembah sudah berbeda, cara menyembahpun berbeda. Dari surat ini kita mengetahui tidak ada kompromi dalam masalah Akidah bagi seorang muslim. Oleh karena itu dalam akidah Tauhid tidak mengenal istilah penyesuaian atau Cynscritisme. Misalnya diantara animisme dengan Tauhid. Penyembahan berhala dengan cara Salat. Menyiapkan sesajen untuk Jin sambil baca Bissmillah dan dzikir. Karena ketika yang Hak, dicampur dengan yang Batil adalah kemenangan yang Batil. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik artinya ialah kemenangan syirik.
Setelah saya selesai memaparkan tafsir surat ini dalam tugas kelompok taklim, lalu salah satu dari kita yang total berjumlah 8 orang ada yang bertanya. Namanya Danu, waktu itu dia teringat kata Ustad Abu Bakar Ba'asyir dengan pandangan ekstreemnya. Ustd Abu mengatakan demikian "Ada sebuah hadist shahih, kalau kita bertemu orang kafir dipojokkan saja atau kalo lagi jalan dipepet saja". Lalu Danu melanjutkan pertanyaanya, bagimana kita seharusnya bersikap terhadap orang Kafir? dan siapakah orang Kafir itu?.
Pertanyaan itu membuatku panas dingin. Saya coba menjawab "Biasa saja Nu, kan ada Kafir dzimmy yang dilindungi karena membayar Jizyah sewaktu jaman Rosul. Dia pun hanya terdiam dan alisnya mengkerut. Dari bahasa non verbalnya saya mengetahui jawaban saya itu tidak cukup untuk orang yang mempunyai kedalaman ilmu agama seperti Danu.
Lalu ustad kita yang bernama Akh Ravi pun mengambil alih dan ini yang menarik. Pertama kata Akh Ravi jangan lupakan konteks ada zaman dimana hubungan Muslim dan kaum Kafir itu biasa saja. Ada pula jaman hubungan antara Muslim dan Kafir tengah bersitegang dalam keadaan perang. Jadi kita harus jeli hadist itu diambil pada waktu jaman apa, sewaktu jaman perang atau damai, dimedan perang atau di kota damai.
Kedua sewaktu Fatthul Makkah atau pembebesan kota Mekkah karena pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kaum Kafir. Tidak ada sepercikpun darah ditumpahkan, tidak ada satupun kaum Kafir Mekkah yang ditawan. Rosul berkata kepada kaum kafir yang ketakutan dan datang kepada dirinya,"Pulanglah kalian ke rumah semuannya dibebaskan".
Yang ketiga kita harus berhati-hati jangan begitu mudah menggolongkan orang, karena menurut Qs, Saba' (34) Orang kafir adalah orang yang mengingkari kekuasaan Allah Swt. Qs, Ibrahim: Orang kafir adalah orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah Swt. Qs Al Baqarah: Orang kafir adalah orang yang tidak mentaati perintah Allah secara utuh. Nah tidak menutup kemungkinan ada diantara Muslim yang juga adalah orang Kafir.
Jawaban itu menghenyakkan kita semua. Astghfirullah semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tergolong sebagai Muslim tapi Kafir. Wallahualam
Sedikit Catatan dari Forum Hikmah 01
Gigih Pribadi
2 komentar:
-
-LuLuK-
on
June 26, 2009 6:13 AM
Hihihi, Ok banget nih catatan taklimnya, lengkap! Jazakallah for sharingnya. Sepakat buat pernyataan tidak mudah mengkafirkan dan mencermati asbabunnuzul hadis ataupun ayat di alQur'an. Islam lembut tapi ber-izzah...
Semoga ilmu yang didapat bisa berbuah amal... Karena indikator utama iman adalah amal. Karena cinta pada-Nya butuh pembuktian :)
tetep semangat, kak!!! ^^v -
XxX
on
June 29, 2009 12:05 AM
Gigih cintaku..
luv u mwaaaah...
;)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Post a Comment