
Kata ‘An Nyong Ha Seo” yang berarti ‘Halo’ di bumi Korea, mendadak menjadi kata yang tidak henti-hentinya meluncur dari sekelompok anak muda di Semarang. Para anak muda yang juga sebagian besar Mahasiswa Universitas Diponegoro ini tampaknya tengah belajar bahasa Korea. Tidak ketinggalan seorang relawan asing dari Korea yang sering dipanggil ‘Su’ menjadi native speaker-nya. Korean Classnya IIWC (Indonesia International Work Camp) biasa saya menyebutnya menjadi class yang banyak diminati Mahasiswa.
Saya sedikit terkejut, ternyata bahasa Korea cukup banyak juga peminatnya. Selain tentunya factor, kelas ini diadakan secara gratis. Saya kira seperti halnya bahasa Jepang, Mandarin, Perancis dan Jerman yang seringkali dipelajari sebagai bahasa ke tiga, selain bahasa Ibu dan bahasa Inggris oleh anak-anak muda Indonesia. Lantas muncul pertanyaan kenapa banyak kawan saya yang bersemangat untuk mempelajari bahasa Korea? Apa untungnya belajar bahasa Korea? Sampai muncul perntanyaan sedikit memberontak, apa istimewanya bangsa Korea ini.
Jika kita mau menengok dan sedikit memperhatikan sejarah bangsa Korea, ternyata hasilnya tidak begitu istimewa. Bangsa yang yang dalam sejarahnya tidak henti-hentinya mendapatkan serangan, gangguan, penghancuran, pembunuhan massal, aneksasi/ invasi, kolonialisme baik oleh Cina, Mongol, Perancis, Jepang bahkan oleh sesama Korean sendiri. Bangsa ini (Korea) sampai detik saya menulis catatan harian ini, bahkan masih kebingungan bagaimana menyelesaikan perang saudara yang telah berlangsung setengah abad antara bangsa Korea yang tinggal di Utara Republik Demokratik Rakyat Korea dengan bangsa Korea yang tinggal di Selatan atau yang bernama Republik Korea.
Bangsa yang miskin sumber daya alam ini, mendapatkan kemerdekaan tahun 1945 setelah merasakan penjajahan sejak tahun 1910 dari Jepang. Saat PD II berakhir yang ditandai menyerahnya Jepang kepada sekutu, Negara-negara sekutu yang tergabung dalam konferensi Cairo 1943. Diantaranya Amerika dan Soviet telah sepakat jika Korea akan dibebaskan dan dimerdekakan dari Jepang. Sembari menunggu rekapitulasi perang, Korea pun dibagi dua sebagaimana Jerman dibagi 2, bagian Utara dibawah komando Soviet sedangkan Selatan dibawah komado Amerika Serikat dkk, kedua Korea itu dipisahkan dengan penanda garis lintang 38’ di peta.
Apa lacur, kenyataan tidaklah seindah harapan. Meningkatnya ketegangan perang dingin antara blok Soviet dan Barat ternyata membuat rencana kemerdekaan Korea menjadi semakin rumit. Puncak dari segala permasalahan yang ada, memicu terjadinya perang saudara antar sesama bangsa Korea. Di tahun 1950 Korea bagian Utara yang berhaluan Komunis dibawah komando Uni Soviet tiba-tiba menyerang Korea bagian Selatan. Bukan perangnya yang akan saya ceritakan, tetapi akibatnya yang mengakibatkan hancur leburnya perekonomian, terlebih peradaban bangsa yang baru 5 tahun merdeka. Meski perang secara de facto telah berakhir sejak puluhan tahun yang lalu, akan tetapi secara de jure tidak ada kata damai diantara Korea Utara dan Selatan. Tidak pernah ada penghentian perang secara hukum. Praktis kedua korea masih berperang hingga detik ini.
Tetapi apa yang terjadi kini, Sontak Korea Selatan menunjukkan pertumbuhan yang mengagumkan. Terlebih sudah sejak 30 tahun yang lalu Korea berubah dari Negara miskin menjadi Negara Industri yang makmur. Dengan PDB per orang USS$ 17.700 dan PDB total tahun 2003 sebesar USS $855.3 Miliar. Bandingkan dengan Negara kita (Indonesia) yang rata-rata PDB per orang USS$ 1.182 dan PDB total tahun 2007 adalah USS$ 408 Miliar.
Kini Rata-rata pendapatan penduduk Korea Selatan 20 kali lipat penduduk Korea Utara dan sama dengan Negara-negara Uni Eropa. PDB nominal Korea Selatan kini menempati peringkat 12 dunia, meski kini tengah terlibat krisis ekonomi namun menurut beberapa pakar Ekonomi Korea, diperkirakan dampaknya tidak akan separah tahun 1997. Jika tahun 1997 Korea mampu melewati krisis dengan mulus, tampaknya keoptimisan akan mampu menyelesaikan krisis keuangan kali ini.
Jika kita melihat sekilas Sejarah Korea, tampaknya ceritanya tidak jauh berbeda dengan bangsa kita, bangsa Indonesia. Kita sama-sama merdeka tahun 1945, dengan kondisi yang sama-sama hancur akibat perang dan penjajahan. Ibarat orang melakukan kompetisi lari cepat, kita memulai dari titik yang sama. Mungkin perbedaan yang terlihat mencolok adalah Korea tidak mempunyai banyak sumber daya alam sedangkan Indonesia mempunyai segudang Sumber Daya Alam. Indonesia berhasil melakukan konsolidasi nasional sedangkan Korea sampai saat ini belum mampu melakukannya.
Akan tetapi pertumbuhan Indonesia tidaklah sepesat Korea, menurut World Bank, Rakyat Indonesia hingga kini yang masih dalam perangkap kemiskinan berjumlah 49% dengan tolak ukur berpenghasilan kurang dari USS$ 2 per hari. Menurut BPS, Pengangguran masih saja sekitar 9,75%. Meski kita harus mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil sekitar 5-6 % pertahun sejak tahun 2004 tetapi jika dibandingkan Korea 8-10% pertahun jelas tidak memberikan perubahan yang cukup signifikan.
Sumbangan terbesar PDB 2005 Negara ini (Indonesia) berasal dari Sektor Jasa sebesar 45,3 %, Industri 40,3%, sedangkan pertanian hanya 14%. Melihat data ini janganlah berbangga hati dan menepuk dada dahulu akan perubahan status Negara kita menjadi Negara Industri dan Jasa seperti halnya Korea. Karena sialnya!!, menurut laporan World bank meski pertanian hanya menyumbang 14% PDB kita, akan tetapi 44% atau 95 juta rakyat!! kita bekerja di sektor ini!. Untuk sektor jasa jumlah rakyat kita yang menjadi tenaga kerjanya mencapai 36.9 persen, sedangkan untuk Industri hanya sebesar 18.8% saja. Masih adakah yang berani bilang Lanjutkan….! melihat fakta seperti ini.
Lantas dimanakah kehebatan bangsa Korea itu. Banyak pakar yang memberikan analisis yang tidak akan saya sampaikan disini mengingat tulisan ini hanyalah catatan harian. Ada yang menyebutkan karena pemimpinnya, karena etos rakyatnya, dan kebijakan-kebijakan ekonominya yang mampu mengangkat bangsa Korea yang miskin menjadi makmur dan maju. Lantas apakah yang menyebabkan bangsa besar dan kaya seperti Indonesia ini masih saja menjadi Negara dunia ke-3. Dipenuhi kemiskinan, kebodohan, kekerasan, korupsi dll. Mari kita jawab dengan memilih pemimpin yang tepat di Pemilu nanti dan memberikan kontribusi riil untuk bangsa ini.
Sampai pada tahap ini, saya pun mulai menyadari kenapa bahasa Korea mampu menarik banyak orang di dunia untuk mempelajarinya. Membuat kawan-kawan saya bersemangat untuk mengenalnya. Jika kita mau untuk melihat keberhasilan para pemimpinnya, prestasi rakyat dan bangsa Korea. Tentunya apresiasi akan muncul dengan sendirinya. Ibarat seorang entrepreneur yang sukes, Korea seakan memberikan inspirasi bagi entrepreneur lainnya, bagaimana metode, bagaimana tips, bagaimana cara hidup, akan selalu ada yang mempelajari. Dalam hal ini Korea sebagai sebuah bangsa maka kebudayaan, bahasa, film-filmnya, lagu-lagunya akan diapresiasi lebih oleh penduduk dunia termasuk dalam hal ini oleh kawan-kawan saya.
Saya hanya memimpikan, kapankah bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang diapresiasi oleh masyarakat dunia. Sungguh bahagia jika melihat ada orang-orang di dunia ini yang mau mempelajari “Bahasa” bukan karena kebutuhan, akan tetapi karena “Bahasa” itu sendiri dan prestasi Indonesia. Semoga tidak lama lagi, sebagaimana bangsa Korea mampu membuktikan kepada dunia bahwa bangsa apapun, tidak hanya yang mengklaim dirinya keturunan dewa layaknya Jepang atau keturunan ksatria layaknya Inggris dan Jerman yang mampu menjadi bangsa yang maju dan makmur.
Gigih Pribadi
Hari Sabtu yang membingungkan, 13 Juni 2009
0 komentar:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Post a Comment